• Photo Galery

    • drug
    • July 2010
      MSSRKJS
          123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      25262728293031
  • Archives

  • Content Tag

  • Testimonials

    • Helllooowwww tkx dah diapprove n lam knal salam kenal dari Surabaya
  • Blog Roll

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1842 kali
  • Subcribe RSS of this blog
  • 30 Juli 2008

    Pahlawan itu bernama

    Ditulis oleh masa dan telah dikomentari sebanyak 2 buah

    Pahlawan itu bernama ...

        "Haah .. hah ... hah ..."
        Nafasku tersengal-sengal, Tidak kukira lari sejauh 500 meter saja bisa membuat tubuhku begitu berat.
        "haaah... hah... hah..., dasar polisi bodoh (hah.. ha..), mereka pikir bisa menangkapku. kalian sudah terlalu gendut. hahaha.. ha uhuk..uhuk"     Kuusahakan menertawakan mereka tetapi tubuh ini berontak. Brengsek pikirku, dulu waktu smp aku bisa lari berkilo meter hanya dengan sedikit lelah. Bahkan aku pernah ikut kejuaraan maraton pelajar walaupun hanya menempati peringkat 3 tapi itu sudah sangat bagus. aku juga punya nafas yang bagus, tidak kusangka dalam 2 tahun saja tubuhku sudah ngedrop sebegitu banyak. Kulihat ada sebuah pohon di pinggir jalan, kuputuskan untuk beristirahat disana. Kucoba duduk dibawah pohon tersebut dan kurasakan keganjalan di saku belakangku. Ku raba sakuku dan kukeluarkan apa yang ada didalamnya. Terlihat sebungkus rokok yang hampir habis. "Dasar rokok brengsek ..." kataku dan kulempar tidak jauh ke depan. Andai saja aku tidak merokok pasti nafasku tetap prima pikirku. Angin semilir membuatku ngantuk kemudian kucoba memejamkan mataku.
        Teringat kembali kejadian 20 menit yang lalu. Andi dan Rio mengajakku bolos. Pelajaran pak Budi memang menyebalkan, udah orangnya kejam,  suka marah pula. Mending main ps aja di rental. Lalu aku, andi, dan rio-pun pergi ke rental. Setelah loncat tembok belakang kamipun jalan melewati jalan setapak. Sedikit lagi kami sampai ke rental. Tiba-tiba kulihat beberapa teman kami (langganan bolos) berlari kearah kami.
        "Kenapa ..?" tanyaku ke rio. beberapa detik kemudian tampak beberapa orang berseragam mengejar mereka.
        "Itu .. Satpol pp. Lariiii.." teriak andi. kamipun lari menjauhi pengejar.
        "Yo, Di kita berpencar" teriakku, dan merekan mengiyakan. Setelah beberapa menit akhirnya aku tidak melihat ada orang yang mengejarku lagi. Semoga saja Rio dan Andi selamat.
        Krek ... terdengar suara ranting terinjak, aku langsung membuka mata dan terkejut. Terlihat sesosok pria berdiri tepat dihadapanku, tidak terlalu tua seumuran ayahku mungkin. Pakaiannya kusut, rambutnya acak-acakan, bajunya rombeng, dan terlihat sebungkus rokok yang tadi telah kubuang. Sesaat kemudian dia merunduk sambil menyodorkan tangan kanan yang sedang membawa bungkus rokok tadi.
        "Nak, jangan membuang sampah sembarangan" katanya, apa-apan pikirku, tanpa sadar kuambil bungkus rokok tersebut
        "Maaf .." jawabku lalu dia duduk didepanku.
        "Tidak apa"  Dia memandangku
        "Boleh minta rokoknya"
        "Silahkan.."
        "Korek?"
        kucari disaku belakang dan saku lain
        "Maaf sepertinya hilang"
        "Ooo... ya sudah" Dia mematahkan rokok itu kemudian di masukkan ke sakunya.
        "Nama ?"
        "Hee ??"
        "Aku biasa dipanggil pakmo, siapa namamu nak??"
        "Eee.. akbar" kemudian dia melihat kesamping lenganku.
        "SMA Satu, kelas berapa?"
        "Kelas 10"
        "Sepuluh? kelas 1 sma?"
        "Ya"
        "Wow bagus juga. Akbar? nama yang bagus, berarti besar, semoga jadi orang besar"
        "Terima kasih"
        "Ngomong-ngomong ngapain kamu disini nak? mbolos?"
        "Tidak kok" dia melihatku tajam.
        "Mbolos ya? kelihatan kok" aku sedikit tegang
        "Gak papa kok tenang saja lagi, biasa anak seusiamu memang labil dan sedang mencari jati diri"
        ...
        ......
        "Tapi ..." dia melanjutkan bicaranya "Apa perbuatan kami sudah benar ya? . . . . kalo begini terus aku jadi takut juga"
        Aku tidak mengerti apa yang dia maksud, kemudian aku beranikan bertanya
        "Kenapa pak?"
        "Tidak... aku hanya takut jika anak-anak seperti kalian tidak bisa kembali"
        "Apa maksud bapak?" terlihat senyum tipisnya
        "Kami para orang tua, apa kami salah ya menitipkan sesuatu pada kalian"  
        "Maaf .., saya semakin tidak mengerti"
        "Begitu ya? wajar juga sih" dia berhenti sejenak
        "Nak pernah tidak kau mendengar nama bung tomo?"
        "Pernah, dia ada di dalam cerita di buku sejarah"
        "Siapa dia?"
        "Seorang pahlawan dari surabaya.. kalo tidak salah?" dia tersenyum lagi
        "Dia adalah orang yang pernah membakar surabaya"
        Aku sedikit tidak mengerti apa yang dia maksud, di buku sejarah tidak pernah dikatakan dia membakar Surabaya.
        "Saat itu inggris mau mendoktrin bangsa ini, dia ingin mengembalikan bangsa ini menjadi tanah jajahan sekutunya, belanda"
        Apa maksud bapak ini pikirku
        "Inggris meminta kita melucuti senjata kita sendiri dan mengakui bahwa kita, bangsa indonesia takluk padanya. Tetapi tidak, kita tidak bisa mengakui hal itu" dia berhenti sejenak
        "Taukah kau nak apa yang bung tomo katakan" aku menggelengkan kepalaku, bapak itu mengambil nafas lalu
        "Selama banteng-banteng indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih maka selama itu, tidak akan kita mau menyerah pada siapapun juga. Kita tunjukkan bahwa kita benar-benar ingin Merdeka, dan untuk kita, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Merdeka atau Mati. Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…! MERDEKA!!!"
        Aku terhuyung sekejap mendengarnya, terhuyung kebelakang, hingga membentur pohon. Sejujurnya aku tidak begitu mengerti apa yang diinginkan bapak ini tapi entah mengapa, semangat yang ada di tiap katanya membuatku bergetar.
        "Tahukah kau nak, untuk siapa kalimat itu dilontarkan saat ini?" Aku menggelengkan kepalaku
        "Untuk kalian"
        Aku terkejut, jarinya sudah mengacung didepan hidungku.
        "Untuk kalian... itu untuk kalian. Berubahlah wahai anakku, jangan biarkan negeri ini jatuh karena perilaku para penduduknya"
        Dia berhenti sejenak dan aku menunggu dengan seksama. Aku tidak menyangka akan tertegun oleh perkataan orang yang bahkan belum kukenal sebelumnya, orang yang hanya berpenampilan sederhana, bahkan lebih mirip seperti pemulung. Tiba-tiba
        "Bangsa ini sakit nak... dan tahukah kau bahwa obatnya dititipkan di pundak kalian ... Sungguh kalianlah yang membawa obat tersebut. Selamatkan bangsa ini. Bebaskan bangsa ini ..."
        "Apa maksud bapak, bukankah kita sudah merdeka. Hampir 63 tahun kita merdeka. kenapa bapak berkata seolah-olah kita sedang dijajah?"     Dia terdiam sejenak
        "Itulah yang membuat bangsa ini lemah. Kita tidak punya sesuatu, ... sesuatu untuk bertahan. Kita sudah terlena dengan kemerdekaan yang telah dibuat oleh para leluhur kita, dan benar kita telah merasakan masa keemasan bangsa kita. Dulu bangsa kita sangat disegani, kita dijadikan panutan bagi negara-negara lain untuk memperoleh kemerdekaan bangsanya. Bahkan Amerika pernah mengatakan bahwa negara kita adalah sebuah ancaman baginya. Kemudian bibit itu muncul, bibit yang telah ditanamkan oleh belanda selama bertahun-tahun itu muncul. Manusia tidak lagi bersyukur pada tuhannya atas kelimpahan yang diberikan dibumi kita ini. Manusia mulai menjadi rakus dan mulai menjadi ganas, mereka melakukan makar, korupsi, serta mulai tidak peduli terhadap orang lain dan hanya berharap segala kebutuhannya terpenuhi semua... Manusia mulai bertingkah seperti binatang, mereka bahkan lebih ganas daripada singa. Tidak peduli tua muda mereka babat semua layaknya mereka membabat ilalang dibelakang rumah mereka"
        Aku terdiam mendengar apa yang dikatakan bapak ini.
        "Ketahuilah nak, sadar atau tidak negeri ini sedang dijajah. budaya kita dirombak total sehingga menjadi sangat kacau. Negeri ini dijajah dengan paham-paham yang menyesatkan kita, bangsa ini mulai materialistis sehingga korupsi-pun dihalalkan. Bangsa ini tidak lagi bertuhankan kepada Tuhan Yang Maha Esa tetapi bertuhankan pada yang berkuasa yaitu manusia yang mempunyai harta tetapi bermoral bejat"
        Kenyataan ini membuat nafasku semakin sesak, lebih sesak daripada saat aku selesai berlari. Aku merasa dada ini memberontak, ingin mengatakan bahwa itu semua tidak benar, tetapi tidak, itu semua benar.
        "Kenapa nak apakah perkataanku salah?" aku menjawab
        "Lalu apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa dilakukan oleh pelajar sepertiku? Apa yang bisa dilakukan oleh orang biasa seperti ku ini?"
        Dia menatapku lalu berkata
        "Pikiranmulah yang membuatmu kecil. Seekor katak yang dikurung didalam kotak yang berbeda ukuran maka loncatannya akan berbeda. Jika kotaknya kecil, maka lompatannya akan pendek akan tetapi jika dia berada dikotak yang lebih besar maka lompatannya akan menjadi lebih tinggi daripada yang satunya. Berubahlah nak, ubahlah cara pandangmu, jangan pernah menganggap dirimu kecil. Berubahlah nak, berubahlah!"
        Dia berhenti dan kurasakan jantungku berdegup kencang.
        "Bisakah perubahan pada diriku merubah yang lain? apakah perubahanku bisa berarti bagi bangsaku?"
        "Aku bertanya padamu nak, apakah yang patut kau ubah saat ini?"
        Aku berpikir sebentar
        "Hukum"
        "Kenapa?"
        "Karena banyak penjahat tidak mendapatkan hukuman yang setimpal"
        Dia tersenyum seraya berkata
        "Boleh juga... tetapi kalo aku lebih memilih ilmu"
        "kenapa?" tanyaku.
        "Sebab ilmulah yang bisa mengendalikan hidup manusia. Dengan ilmu manusia manusia bisa bertahan hidup, dengan ilmu manusia bisa mencapai cita-citanya, dengan ilmu manusia bisa saling menolong, dengan ilmu manusia lebih mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, dengan ilmu manusia bisa mencegah sesuatu yang buruk terjadi kepada dirinya, dan dengan ilmu manusia bisa lebih dekat dengan Tuhannya. Semua yang ada didunia ini ada ilmunya, dengan ilmu yang bagus disertai dengan taqwa yang bagus pula maka kita bisa lepas dari belenggu yang telah lama memborgol kita. Kita bisa mencegah kehancuran datang ke negeri kita"
        Aku hanya duduk termangu mendengar apa yang dikatakan pakmo
        "Tahukan kau negara jepang dan jerman nak?"
        Akupun mengangguk
        "Mereka adalah dua negara yang paling banyak menerima kekalahan pada saat perang dunia ke dua. Mereka lebih hancur dari kita, tetapi apa? mereka tidak mau terus diam. Mereka bangkit, mereka berjuang, mereka berubah. Di jepang pada waktu itu para guru dikumpulkan dan diberi suatu wasiat untuk merubah negeri itu. Mereka tidak mau berpangku tangan dan terkungkung dalam kegagalan masa lalu, dan hasilnya hanya dalam waktu yang relatif singkat mereka bisa lepas dari masa kegelapan yang melanda negara mereka"
        "Mereka melakukannya dengan sebuah langkah kecil tetapi pasti yaitu dengan pendidikan. Lalu bagaimana dengan kita?... bagaimana dengan kita?..."
        Aku terdiam, terpaku. Aku merasakan pandangan tajam pakmo. Aku merasa sedang dalam ruangan yang tertutup dengan udara yang hampir habis. Nafasku semakin memburu dibuatnya
        "Kita tidak, kita tidak seperti mereka. Sungguh kalo kau menyadari kau bisa bercermin pada dirimu sendiri"
    Untuk sesaat terasa dadaku sesak lagi
        "Kalian lebih memilih bolos sekolah hanya karena alasan sepele... Tidak taukah kalian, orang tua kalian menitipkan kalian sebuah masa depan. Masa depan dari sebuah negeri bernama Indonesia, tetapi kalian menyelewengkannya, kalian bolos walaupun kalian tau bahwa biaya sekolah sekarang semakin mahal, kalian bolos walaupun kalian tahu bahwa orang tua kalian tahunya kalian sedang sekolah, kalian juga merokok walaupun tahu bahwa merokok membuat kalian lemah"
        Aku merasakan jantungku berdegup lebih kencang dan terasa seperti aku mendapatkan tamparan yang sangat keras
        "Jika seperti ini kalian jadi lebih mirip dengan para koruptor yang menghancurkan Negara ini. Sadarlah nak..... Lihatlah sekelilingmu. Berapa banyak anak yang ingin sekolah tapi mereka mengurungkan niatnya karena orang tua mereka tidak mampu untuk menyekolahkannya. Malulah pada mereka. Mereka terkadang memiliki otak yang lebih cerdas tetapi hanya terdampar di pinggir jalan dan di lampu merah. Malulah pada mereka nak"
        Dia berhenti sebentar
        "Lalu sekarang aku bertanya, apakah kami telah salah menitipkan masa depan bangsa ini kepada kalian? salahkah kami?"
        Dia menatapku lebih tajam, dan jantungkupun berdetak lebih cepat lagi kemudian tanpa sadar terlontar kata.
        "Tidak... kalian tidak salah menitipkan bangsa ini"
        "Bagaimana kami tau? sedangkan menuntut ilmu saja kalian kerjakan dengan malas-malasan?"
        "Kami akan berubah!" tanpa sadar aku telah berteriak
        "kami ... tidak, aku tepatnya akan berubah, dan akan kuajak teman-temanku untuk berubah. Jika kami berubah menjadi     lebih baik maka perbuatan kalian tidak akan salah menitipkan bangsa ini dipundak kami"
        Tangan kanan Pakmo mengayun didepan mukaku, kemudian menggenggam seolah dia menangkap sesuatu
        "Aku pegang kata-katamu dan aku berharap kau berkomitmen dengan janjimu sendiri. Aku juga tak mau, kau khususnya ada di luar sekolah pada saat jam pelajaran. Berjanjilah nak, berjanjilah untuk berubah dan lakukan perubahan walaupun itu akan terasa sangat berat bagimu"
        "Aku akan berubah" kataku tegas. Dan kuliat dia tersenyum.
        "Pakmo.."
        Terdengar suara kecil dibelakang pakmo
        "Dari mana saja sih, bapak udah ditunggu anak-anak lho"
        Terlihat sesosok anak kecil, seumuran sd mungkin, dan kurasa sudah sangat mengenal pakmo. Kulihat pakmo berdiri dan menjawab "Iya tunggu sebentar, kau balik saja dulu. sebentar lagi bapak menyusul"
        Kulihat anak itu menurut dan berjalan pergi. Lalu kuberanikan bertanya.
        "Siapa dia pak?"
        "Mereka anak-anak sepertimu, tetapi mereka tidak seberuntung dirimu yang masih bisa sekolah. Mereka anak jalanan, tetapi mereka ingin berubah. Mereka ingin berubah layaknya kau saat ini"
        Aku tertegun lagi. Aku tidak menyangka hari ini aku akan berrtemu dengan orang yang tidak kukenal tetapi bisa membuatku tertegun begitu lama. Tanpa sadar ku berkata.
        "Siapakah anda?"
        Pakmo terdiam sebentar, lalu memejamkan mata baru kemudian menatapku dengan tajam.
        "Aku bekas guru...., tidak, ... aku hanya seorang pelarian, aku berlari dari kenyataan. Dulu saat aku menjadi guru aku sangat senang sekali, tetapi setelah aku mengetahui bahwa profesi guru hanya menjadi sebuah ladang bisnis, aku melarikan diri, lari dari kenyataan dan tidak mau mengakuinya. Aku sempat membenci guru, aku bahkan benci diriku sendiri. Tapi suatu hari aku bertemu dengan seorang tua yang sangat bijak. Dia mengajariku dan membuka pikiranku. Dia mempertemukanku dengan anak-anak jalanan. Dia adalah guruku, dia juga pahlawanku, lalu aku putuskan untuk bisa menyamainya. Aku mulai menjadi penyampai ilmu bagi anak jalanan, meskipun tidak mengajar secara resmi tetapi saat itu aku bisa merasakan kebahagiaan yang melebihi apapun. Untuk memenuhi kebutuhan aku menjual lukisanku dan anak-anak jalanan, terkadang dapat sedikit, terkadang pula dapat banyak. Bagiku melihat mereka tersenyum dan bisa belajar untuk suatu perubahan dimasa depan adalah suatu karunia terindah... dan itu tidak tergantikan"
        Dadaku bergejolak semakin panas dan kurasakan semangat yang begitu menyala. Aku beruntung bertemu orang seperti pakmo. Kulihat pakmo beranjak pergi.
        "Terima kasih" kataku.
        "Sama-sama" balasnya.
        "Bolehkan aku belajar padamu? aku akan membawa teman-temanku. dimanakah kau tinggal?" tanyaku,
        "Kami ada di dekat sungai, mampirlah sekali-sekali, aku pasti akan menjamumu"
        Lalu diapun berjalan menjauh. Secara sadar atau tidak aku mulai mengidolakan orang ini. Dia menjadi salah satu pahlawan dihatiku.
        "Bar ..?"
        Kudengar suara yang familiar di belakangku. Akupun menoleh dan kulihat rio dan andi berdiri dibelakangku. kami terdiam sejenak.
        "Masih mau ke Ps" tanya andi.
        "Tidak" kujawab dengan tegas. Kulihat kedua temanku sedikit bingung
        "Ayo kita kembali ke sekolah!" kataku.
        "beneran nih" jawab rio.
        Aku hanya mengangguk. Kamipun berjalan kembali kesekolah.
        "Yo.. Di.. "
        "Apa ..?" kata rio
        "Tadi aku bertemu seseorang ...."
        ...
        ......
        .........


    Ada 2 buah komentar untuk Pahlawan itu bernama

    1. 01 Agustus 2008

      #1 areros berkomentar :

      salam kenal ya sama bayi blogger 878 ni..

      setuju juga ce sama pahlawan pilihan kamu tapi dia urutan kesekian
      yang layak jadi pahlawan urutan teratas adalah PETANI
      bayangin klo gda petani dari mana kita makan nasi, buah, sayu, bahkan roti sandwith dan sebagainya

      comment balik ke blog q ya (klik nickname)...budayakan balas comment demi kelangsungan para blogger
      hidup blogger !!! hidup petani !!

    2. 12 September 2008

      #2 Sartono berkomentar :

      Selamat menjadi Juara 2 pada Kategori Ide Membangun Bangsa
      Semoga barokah.

    Leave a Reply

    Note: Comment untuk tulisan ini tidak diperkenankan format html

    footer